Menu
Kembali ke Berita Informasi

JEJARING GLOBAL: Dari Sekolah Unggul Menuju Reputasi Internasional

01 Oktober 2026 • 49x dilihat • oleh Rahman
JEJARING GLOBAL: Dari Sekolah Unggul Menuju Reputasi Internasional

Oleh: Dr. Derliana, MA
Mudir Pesantren Internasional KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang Sumatera Barat

Sekolah dan madrasah unggul hari ini tidak lagi cukup hanya dikenal dengan memiliki gedung yang mewah, jumlah peserta didik yang banyak, atau menghasilkan sederet prestasi nasional. Tantangan berikutnya adalah bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu terkoneksi, dipercaya, berkolaborasi, dan memiliki reputasi internasional.

Di sinilah jejaring global menjadi bagian yang sangat penting dari transformasi sekolah/madrasah unggul.

Pemikiran tersebut semakin kuat setelah mengikuti rangkaian Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, 28–30 September 2026. Forum ini mempertemukan sekitar 520 kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah, serta unsur Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia.

Forum nasional tersebut membawa satu pesan besar: sekolah Muhammadiyah harus terus bergerak dari sekadar unggul secara internal menuju berdaya saing global.

Luas, Luwes, Adaptif—dan Harus Berjejaring

Salah satu pesan yang sangat membekas disampaikan Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. dalam rangkaian kegiatan Rakornas. Pemimpin pendidikan, menurutnya, harus memiliki karakter “luas, luwes, dan adaptif.”

Luas berarti memperluas wawasan. Luwes berarti tidak terjebak dalam kekakuan. Adaptif berarti mampu membaca dan merespons perubahan zaman. Bahkan kepala sekolah dan madrasah didorong untuk keluar dari rutinitas administratif, bertemu lebih banyak orang, memperluas relasi, dan belajar dari praktik baik lembaga lain.

Pesan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Sekolah yang ingin mendunia tidak boleh bekerja sendirian.

Jejaring memungkinkan sekolah mendapatkan pengetahuan baru, mitra baru, guru tamu, pertukaran pelajar, peluang studi lanjut, kompetisi internasional, pengembangan kurikulum, hingga akses menuju perguruan tinggi dunia.

Dengan demikian, jejaring global bukan sekadar berapa banyak sekolah memiliki MoU. Ukuran jejaring sesungguhnya adalah seberapa besar hubungan itu menghasilkan dampak bagi guru, murid, dan institusi. MoU harus berubah menjadi Movement of Opportunity.

Bahasa adalah Pintu Masuk Dunia

Membangun jejaring global hampir mustahil tanpa kemampuan berbahasa asing.

Kita boleh memiliki program internasional. Kita boleh mengundang tamu dari berbagai negara. Kita boleh menandatangani kerja sama dengan institusi luar negeri. Namun apabila guru dan murid tidak mampu berkomunikasi, membaca sumber internasional, menulis korespondensi, melakukan presentasi, dan membangun percakapan akademik, maka jejaring tersebut akan berhenti pada dokumen.

Karena itu, kemampuan bahasa asing tidak boleh ditempatkan sebagai kegiatan tambahan. Bahasa harus menjadi bagian dari budaya sekolah.

Bahasa Inggris penting sebagai bahasa komunikasi global dan akademik. Bahasa Arab menjadi sangat strategis bagi sekolah dan pesantren Muhammadiyah, terlebih untuk akses pendidikan ke negara-negara Timur Tengah. Bahasa lain seperti Jerman, Mandarin, dan Jepang dapat dikembangkan berdasarkan jalur masa depan murid.

Penguatan ini sejalan dengan hasil evaluasi Program Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul yang menempatkan pembelajaran digital, kemitraan nasional dan internasional, serta penguasaan bahasa asing sebagai bidang yang masih perlu terus diperkuat.

Di Pesantren Internasional KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang, Bahasa Arab dan Inggris dikembangkan sebagai bahasa keseharian dengan dukungan penuh Kauman Language Centre (KLC) dan MIAH, disertai pengembangan Bahasa Jerman, Jepang, dan Mandarin melalui program pilihan.

Targetnya bukan sekadar anak bisa menjawab soal bahasa, tetapi kendaraan yang membawa mereka memasuki dunia global.

Digitalisasi adalah Jembatan Jejaring Global

Jika bahasa adalah pintunya, maka digitalisasi adalah jembatannya.

Dahulu membangun kerja sama internasional membutuhkan perjalanan yang panjang dan biaya yang besar. Hari ini sebuah sekolah di Padang Panjang dapat berdiskusi dengan institusi di Malaysia, Korea, Australia, Jerman, Timur Tengah, atau Eropa melalui ruang digital dalam hitungan detik.

Karena itu digitalisasi sekolah tidak boleh berhenti pada memiliki komputer, Smart TV, atau absensi elektronik.

Digitalisasi harus meningkatkan efektivitas tata kelola, kualitas pembelajaran, keterhubungan dengan dunia luar, dan reputasi institusi.

Website berbahasa internasional, virtual meeting, learning management system, database alumni, dashboard mutu, portofolio digital peserta didik, publikasi internasional, media sosial profesional, e-library, e-administration, hingga sistem pendaftaran dan komunikasi dengan mitra merupakan bagian dari infrastruktur menuju sekolah global.

KAUMAN sendiri pada 17 Agustus 2026 telah meluncurkan Digital Ecosystem, sebagai salah satu tahapan transformasi pengelolaan pendidikan berbasis teknologi.

Digitalisasi pada akhirnya bukan tentang teknologi. Digitalisasi adalah tentang memperpendek jarak antara KAUMAN dan dunia.

Jejaring Harus Terlihat pada Masa Depan Lulusan

Keberhasilan program internasional pada akhirnya harus dapat dilihat dari lulusan.
Sekolah tidak cukup mengatakan, “Kami memiliki program internasional.”

Pertanyaan berikutnya adalah: berapa anak yang benar-benar memperoleh pengalaman internasional? Berapa yang berkomunikasi dengan masyarakat global? Berapa yang mengikuti kompetisi internasional? Berapa yang mendapatkan beasiswa? Berapa yang diterima di perguruan tinggi luar negeri?

Inilah yang terus dibangun di tingkat Madrasah Aliyah (MA) KM Pesantren Internasional KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang Sumatera Barat.

KAUMAN saat ini mencatat jejak penerimaan lulusan pada 18 universitas luar negeri di 14 negara, di samping berbagai perguruan tinggi unggulan dalam negeri.

Namun angka tersebut bukan untuk berhenti sebagai kebanggaan. Ia justru menjadi tantangan baru.

Kalau hari ini sudah ada santri yang menembus berbagai perguruan tinggi dunia, maka besok harus semakin banyak. Kalau hari ini program luar negeri baru dinikmati sebagian anak, maka ke depan kesempatan itu harus diperluas.

Internasionalisasi bukan membuat sekolah terlihat internasional. Internasionalisasi adalah membuat anak-anak benar-benar memiliki masa depan internasional.

Kerja Sama Internasional Harus Sampai ke Ruang Belajar

KAUMAN juga mengembangkan pengalaman global melalui berbagai kegiatan, di antaranya program di Malaysia, Daurah Bahasa Arab di Makkah–Madinah–Qatar, English Camp Malaysia–Thailand, student exchange, serta kehadiran guest teachers dari sejumlah negara.

Model seperti ini penting karena murid tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi memperoleh kesempatan belajar bersama dunia.

Jejaring global seharusnya menghasilkan pertukaran pengetahuan. Guru KAUMAN dapat belajar dengan guru dari negara lain. Santri KAUMAN dapat menyelesaikan proyek dengan siswa dari sekolah mitra. Guru tamu dapat masuk secara daring maupun luring. Riset bersama dapat dilakukan. Kompetisi internasional dapat diikuti. Jalur perguruan tinggi dapat dibuka.

Dengan begitu istilah international school atau international pesantren tidak berhenti pada papan nama.

KAUMAN Level Up

Transformasi KAUMAN menjadi Pesantren Internasional membawa konsekuensi besar. Label internasional bukan titik akhir, tetapi sebuah janji mutu yang harus terus dibuktikan.

KAUMAN harus berani naik kelas dari lembaga yang memiliki aktivitas internasional menjadi lembaga yang mempunyai ekosistem dan reputasi internasional.

Arah level up tersebut setidaknya harus dibangun melalui:

1. Tata kelola modern menuju reputasi internasional. Sistem kerja harus profesional, terdigitalisasi, berbasis data, memiliki SOP, indikator kinerja, evaluasi berkala, penjaminan mutu, dan standar layanan yang dapat dibandingkan dengan institusi pendidikan global.
2. SDM berdaya saing internasional. Guru dan tenaga kependidikan perlu meningkatkan kompetensi bahasa, pedagogi digital, wawasan global, sertifikasi, kemampuan riset, publikasi, serta pengalaman belajar dan berkolaborasi dengan institusi luar negeri.
3. Prestasi global. Santri harus lebih banyak masuk dalam kompetisi, riset, tahfiz, robotik, sains, bahasa, seni, olahraga, dan inovasi pada level internasional.
4. Ekosistem bahasa internasional. Bahasa tidak cukup diajarkan, tetapi harus digunakan. Target kompetensi perlu dibuat terukur melalui TOEFL, IELTS, TOAFL, SAT atau standar lain sesuai program yang dituju.
5. Digitalisasi dan Smart Education. Sistem administrasi, pembelajaran, komunikasi orang tua, layanan santri, perpustakaan, dokumentasi prestasi, pendaftaran, hingga promosi harus terintegrasi dalam ekosistem digital.
6. Global Student Pathway. Setiap santri perlu mulai dipetakan sejak awal: siapa yang diarahkan menuju Timur Tengah, Eropa, Asia, universitas dalam negeri unggulan, jalur tahfiz, STEM, talent, maupun kedinasan. Sekolah kemudian menyiapkan bahasa, akademik, portofolio, dan pendampingannya.
7. Kemitraan internasional yang produktif. Bukan sekadar banyak MoU, tetapi hadirnya student exchange, teacher exchange, guest teacher, joint project, short course, benchmarking, riset kolaboratif, hingga jalur penerimaan universitas.
8. Budaya mutu yang berkelanjutan. Semua program internasional harus masuk ke dalam sistem perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut. Penjaminan mutu adalah fondasi agar perubahan tidak bergantung pada satu figur. Rakornas sendiri menegaskan bahwa mutu sekolah unggul harus bergerak dari program menuju budaya yang terukur dan berkelanjutan.
9. Branding dan visibilitas internasional. Prestasi dan inovasi sekolah perlu dikomunikasikan secara profesional melalui website, media, publikasi bilingual, konferensi, serta jejaring pendidikan sehingga reputasi dibangun berdasarkan bukti.
10. Identitas Islam dan Kemuhammadiyahan yang semakin kuat. Menjadi global tidak berarti kehilangan identitas. Justru santri harus hadir ke dunia dengan Al-Qur'an, Sunnah, adab, kepemimpinan, kemandirian, dan nilai Islam Berkemajuan sebagai fondasi.

Growth Mindset: Tidak Cepat Puas dengan Capaian

Rakornas juga mengingatkan bahwa proses menuju sekolah berdaya saing global memerlukan growth mindset. Prof. Djohan Yoga dalam sesi Leading with Growth Mindset menekankan pentingnya pemimpin pendidikan melihat tantangan, kesalahan, hambatan dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Empat karakter yang ditekankan adalah integrity, humility, accountability, dan courage.

Ini sangat relevan bagi KAUMAN. Ketika sebuah sekolah memperoleh prestasi, jangan berhenti. Ketika satu anak diterima di luar negeri, tanyakan bagaimana sepuluh anak berikutnya dapat menyusul. Ketika satu MoU berhasil dibuat, tanyakan program konkret apa yang lahir darinya. Karena, sekolah unggul tidak boleh cepat puas.

Dari KAUMAN Menuju Dunia

Rakornas kali ini menjadi pengalaman yang istimewa bagi Dr. Derliana, MA, Mudir Pesantren Internasional KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang sekaligus Kepala MA KM. Selain mengikuti rangkaian kegiatan sebagai peserta, ia juga mendapat kepercayaan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk berbagi best practice dalam sesi “Strategi Penguatan Mutu Pembelajaran melalui Program Internasional” pada 29 September 2026.

Kesempatan tersebut menjadi ruang untuk membagikan perjalanan KAUMAN: bagaimana sebuah pesantren dari Padang Panjang berikhtiar membuka akses dunia bagi santrinya melalui penguatan program internasional, bahasa, pengalaman global, jejaring, dan keberhasilan lulusan memasuki perguruan tinggi luar negeri.

Namun perjalanan itu masih panjang. Predikat Sekolah Unggul Muhammadiyah Pratama yang kini diperoleh tingkat Madrasah Aliyah (MA) KM bukan tempat untuk berhenti. Ia harus menjadi titik berangkat menuju mutu yang lebih tinggi.

Target berikutnya bukan sekadar unggul. Tetapi unggul, terkoneksi, dipercaya, berpengaruh, dan bereputasi internasional. Sebab jejaring global pada hakikatnya bukan sekadar menghubungkan sekolah dengan sekolah. Jejaring global adalah tentang menghubungkan anak-anak kita dengan masa depan mereka.

Dan bagi KAUMAN, transformasi itu harus terus bergerak: Dari Padang Panjang menuju dunia. Dari sekolah unggul menuju global excellence.

Bagikan